0
KEPADA SAUDARA-SAUDARAKU
Posted by Nurul Fitriany Abbas
on
09.31
Kepada saudara-saudaraku...
Suatu hari nanti, jika nafasku tak berhembus lagi kuharap kalian masih bisa merasakan hadirku. Mungkin suaraku takkan terdengar lagi tapi aku berharap surat ini kan jadi kenangan yang abadi. Mungkin kalian takkan bisa melihatku lagi tapi kuharap maafku masih berada di antara kalian.
Untaian rasa terima kasih yang besar bertautan dari semenjak aku mengenal kalian hingga aku terkubur di dalam pusara. Entah bagaimana aku membalas setiap kebahagian yang menyiramiku dari hati kalian. Kalian adalah nafasku, setiap lembar kehidupanku tak pernah nama kalian terlewatkan, bahkan nama kalian ditulis dengan tinta emas dengan huruf kapital.
Maafkan aku jika dalam perjalanan hidupku pernah membuat kalian merasakan sakit. Sungguh, tak pernah ada niatku untuk menyakiti kalian, jika pun ada itu hanya keegoan yang sementara. Aku pun selalu merasakan penyesalan setelah hal itu. Kalian adalah lampu jalan di kala gelap, menuntunku menemukan jalan yang benar.
Aku harap...
Kalian takkan pernah mau melupakan senyumku, biarkan senyumku mengiringi langkah kalian. Aku pun akan tersenyum jika kalian bahagia dalam kesuksesan, dan saat itu terjadi yakinkah dalam hatimu bahwa aku tengah tersenyum.
Aku pergi namun kan tetap disini, cintaku kan merasuk dalam sukma jiwa kalian, menyatu dengan darah kalian. Aku sangat mencintai kalian...
Kuharap kalian tak meneteskan air mata di saat malaikat maut datang menjemputku, aku ingin melihat senyum kalian, aku ingin merasakan kebahagiaan terakhir bersama kalian. Suatu hari nanti, mungkin besok atau lusa, langkahku kan tinggal jejak tapi jangan hapus jejak itu.
Pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya hingga saat ini dan selalu kupertanyakan...
"Jika aku mati nanti, bagaimana aku dikenang?"
Mungkin huruf-huruf sederhana ini mampu menjadi waliku karena ada saatnya dimana aku tak bisa lagi mengatakan apa-apa...
Sayonara... Aku menyayangi kalian
Suatu hari nanti, jika nafasku tak berhembus lagi kuharap kalian masih bisa merasakan hadirku. Mungkin suaraku takkan terdengar lagi tapi aku berharap surat ini kan jadi kenangan yang abadi. Mungkin kalian takkan bisa melihatku lagi tapi kuharap maafku masih berada di antara kalian.
Untaian rasa terima kasih yang besar bertautan dari semenjak aku mengenal kalian hingga aku terkubur di dalam pusara. Entah bagaimana aku membalas setiap kebahagian yang menyiramiku dari hati kalian. Kalian adalah nafasku, setiap lembar kehidupanku tak pernah nama kalian terlewatkan, bahkan nama kalian ditulis dengan tinta emas dengan huruf kapital.
Maafkan aku jika dalam perjalanan hidupku pernah membuat kalian merasakan sakit. Sungguh, tak pernah ada niatku untuk menyakiti kalian, jika pun ada itu hanya keegoan yang sementara. Aku pun selalu merasakan penyesalan setelah hal itu. Kalian adalah lampu jalan di kala gelap, menuntunku menemukan jalan yang benar.
Aku harap...
Kalian takkan pernah mau melupakan senyumku, biarkan senyumku mengiringi langkah kalian. Aku pun akan tersenyum jika kalian bahagia dalam kesuksesan, dan saat itu terjadi yakinkah dalam hatimu bahwa aku tengah tersenyum.
Aku pergi namun kan tetap disini, cintaku kan merasuk dalam sukma jiwa kalian, menyatu dengan darah kalian. Aku sangat mencintai kalian...
Kuharap kalian tak meneteskan air mata di saat malaikat maut datang menjemputku, aku ingin melihat senyum kalian, aku ingin merasakan kebahagiaan terakhir bersama kalian. Suatu hari nanti, mungkin besok atau lusa, langkahku kan tinggal jejak tapi jangan hapus jejak itu.
Pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya hingga saat ini dan selalu kupertanyakan...
"Jika aku mati nanti, bagaimana aku dikenang?"
Mungkin huruf-huruf sederhana ini mampu menjadi waliku karena ada saatnya dimana aku tak bisa lagi mengatakan apa-apa...
Sayonara... Aku menyayangi kalian

Posting Komentar