0
CERPEN
2
NOVEMBER
Jika kita putar waktu 10 tahun kebelakang, ini
akan terasa aneh dan menyakitkan bagiku. Aku mencoba melupakan semua itu, aku
mohon jangan ingatkan aku akan masa laluku yang begitu menyakitkan.
Itu yang
kukatakan pada Rey beberapa hari yang lalu. Ia memaksaku mengatakan apa yang
terjadi 10 tahun yang lalu. Ia memang benar-benar ingin tahu. Aku sendiri
bingun mengapa aku tidak bisa mengatakan apa-apa? Atau mungkin ini terlalu
menyakitkan untuk diingat kembali.
Hari itu,
Rey meninggalkanku dengan muka kecewa karena aku malas mengingat-ingat kejadian
itu. Tetapi hari ini, aku sungguh ingin menuangkan isi hatiku pada siapapun
yang ingin mendengarkan dan mengerti. Ya salah satunya Rey. Perasaan ini aku
dapat setelah aku bermimpi bertemu Kian lagi. Mengapa dia harus datang lagi?
Tepat pukul
9.00 aku mencari-cari Rey, entah kemana dia pergi. Biasanya jika tidak di kelas
dia berada di perpustakaan kampus. Ini aneh sekali, apakah Rey pergi seperti
Kian meninggalkanku. Itu tidak mungkin, Rey bukan Kian. Aku coba meyakinkan
diriku.
“Joanna!”
teriakku ketika aku melihat teman kelas Rey.
“Iya? Ada
apa Emma?” ia lontarkan pertanyaan biasa kepadaku.
“Apakah
kamu, ya kamu! Apakah kamu melihat Rey?” tanyaku masih terengah-engah karena
kelelahan mencari Rey.
“Rey? Kelas,
pepustakaan?” katanya balik bertanya
Aku hanya
menggeleng-gelengkan kepala.
“Taman kota!
St. Stephen's Green!” teriak Leo, salah satu teman Rey yang paling terobsesi
dengan novel Harry Potter. Bahkan sebagian temannya memanggilnya Sirius karena
sangat mirip dengan teman ayah Harry itu.
“Thanks” ucapku sembari lari mengejar
sebuah taxi.
“St.
Stephen's Green!” kataku pada sopir taxi itu.
Sopir itu
hanya menganggu-angguk.
Sesampainya
di St. Stephen's Green aku mencari-cari Rey. Mataku tertuju pada sesosok lelaki
yang berdiri di salah satu jalan di taman St. Stephen's Green. Ia menegur
seorang anak perempuan dan meminta selembar koran bekas. Aku bertanya-tanya
untuk apa koran itu.
“Rey!”
teriakku sekeras mungkin agar ia mendengarnya.
Lelaki itu
berbalik dan tersenyum manis, senyumnya semanis anggur Turin. Matanya mengecil,
bagian diantara alisnya mengerut tandanya ia mecoba melihatku dengan jelas
karena mungkin pandangannya terhalau terik Irlandia.
“Emma?”
katanya sayup-sayup tapi aku masih bisa mendengarnya.
Aku berlari
mendekatinya, kugenggam jemarinya. Aku tak tahu mengapa aku memeluknya tanda
tak ingin kehilangan dia.
“Kamu tak
berpikir aku akan meninggalkanmu seperti Kian meninggalkanmu, kan?” tanyanya
sambil tersenyum.
Aku hanya
menjawabnya dengan melepas pelukanku dan tersenyum kembali padanya.
“Jadi?”
tanyanya singkat. Aku langsung mengerti apa yang ia maksud.
Kami
berjalan-jalan di taman St. Stephen's Green sambil meneropong 10 tahun yang
lalu.
“Waktu itu
umurku masih 17 tahun” aku terdiam, rasanya sakit sekali. Namun aku coba
melanjutkan “Tanggal 30 Oktober 2001, Kian datang menemuiku di taman sekolah.
Ia tersenyum padaku” aku belum bisa melupakan senyumnya karena senyum itu sama
persis dengan senyum Rey.
“Disana Kian
mencoba mengatakan sesuatu padaku, ia menggengam tanganku erat sekali, aku saat
itu kebingungan. Ia memelukku, saat itu aku merasakan jantungnya berdebar
sangat kencang” aku terdiam sejenak, mencoba mengambil napas panjang. Aku
sangat kanget ketika Rey melontarkan pertanyaan singkatnya “Lalu?”
“Kian
mengatakan sesuatu, hatiku berdebar”
“’aku akan ke London selama seminggu’ itu
yang dikatakan Kian. Aku melepas pelukannya. Aku tertawa di hadapannya sembari
menggeleng-gelengkan kepalaku. Aneh sekali Dublin – London dan hanya seminggu. Aku
bertanya kepada Kian ‘Ada apa, Kian? Ini
hanya London’. Kian kembali memelukku, ia meneteskan air matanya. ‘ya ini hanya London, tapi bagiku ada yang
aneh, aku merasa akan pergi jauh untuk slamanya’. Aku membalas pelukannya
erat sekali.” Aku menatap mata Rey.
Rey membalas
menatap mataku. Aku tak tahan lagi, sebuah sungai kecil mengalir dari kelopak
mataku. Rey mengeluarkan sapu tangannya, ia fungsikan sapu tangan itu untuk
menghapus air mataku.
“Lalu, apa
yang terjadi?” kata Rey berambisius sekali mengetahui kejadian itu.
Aku mencoba
melanjutkan, “Aku mengatakan pada Kian bahwa aku akan ada dimanapun ia berada”
Rey
tersenyum, “Kamu takut kehilangan Kian seperti Kian takut kehilanganmu?”
pertanyaan yang mudah sekali bagiku.
“Ada sesuatu
dalam diri Kian yang membuatku sulit sekali melepasnya, dia seperi matahariku”
jawabku.
“Lalu, kamu
biarkan Kian pergi?” tanya Rey. Pertanyaan itu seakan menyayat hatiku.
Jawabanku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Air mataku melucur deras.
“Tanggal 2
November, hari dimana Kian pergi ke London. Kian saat itu sangat takut. Sebelum
ke bandara Kian menemuiku dulu. Disini, di taman ini. Ia mengucapkan selamat
tinggal, tapi baginya mengucapkan selamat tinggal itu berat sekali. Seakan dia
akan pergi jauh untuk slamanya. Aku hanya tersenyum, aku meneteskan air mata.
Kami berdua bepelukan. Kian sama sekali tidak ingin melepas pelukanku. Aku coba
menenangkannya dengan memberinya selembar kertas bertuliskan Tuhan, aku sangat beruntung karena kau
mengirimkan seseorang yang sangat menyayangiku. Jadi, tolong jangan kau ambil
dia dariku. Karena esok kami akan bermimpi bersama. Selamatkan hatinya untuk
mencintaiku. Ini sulit untuk mengetahui satu keyakinan kita” aku
mengucapkan kata-kata yang aku tulis diatas selembar kertas dihadapan Rey.
“Lalu kertas
itu? Sekarang dimana?” Tanyanya
“Di... “ aku
menangi sejadi-jadinya.
Rey
menenangkanku, ia berusaha membuatku bercerita kembali.
“Saat Kian
akan pergi, entah mengapa tanganku sulit sekali melepasnya. Namun, bagaimanapun
juga Kian harus pergi. Dengan berat hati aku melepasnya” Lanjutku dengan mata
yang masih berair.
“Aku
melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai Kian pergi. Saat itu air mataku
mengalir sejadi-jadinya” Napasku berat sekali.
Rey memasang
muka penasaran dengan kejadian malam itu. Ya malam itu, malam kedua setelah
Kian pergi. Atau tepatnya 3 November malam.
“Rey, saat
itu hujan deras sekali. Mungkin kamu tahu lagu Gun ‘N Roses November Rain?”
tanyaku mendramatisir keadaan.
“Yap”
jawabnya singkat
“Saat itu
pukul 21.00, seseorang mengetuk pintu rumahku. Ibuku membuka pintu. Yang aku
lakukan saat itu membolak-balikkan album fotoku bersama Kian dalam kamar. Ibuku
berteriak ‘Emma’. Aku menjawab
teriakan ibuku ‘Ya, Ibu?. Aku
melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Yang aku dapati ibu dan ayahku
berpelukan, ayahku menengkan ibu yang saat itu menangis. Aku melihat seorang
lelaki jangkun berumur sekitar 35 tahun memasang muka sedih. Ya, aku langsung
mengenalinya itu Paman Fred, Kakak lelaki ibu Kian. Dia memegang sebuah ketas
coklat di tangannya. ‘Ada apa ini?’ semua
orang yang ada diruangan itu menoleh ke arahku. ‘Emma’ ibu mengajakku duduk di sofa ruang tamu. Paman Fred memegang
tanganku. Aku merasakan tangannya gemetar, dingin sekali. Aku masih dalam
keadaan bingun, aku berpikir ada yang tidak beres. Tiba-tiba Paman Fred
mengatakan sesuatu yang membuatku kehilangan cahaya semuanya hitam...” Aku sulit
sekali melanjutkan, tetapi pertanyaan Rey mebuatku tegar.
“Apa yang
dikatakan paman Fred?” tanya Rey.
Bibirku
gemetar “Yang dikatakan Paman Fred, kamu mungkin tak kan percaya ‘Emma, Kian telah pergi’ aku menjawab
kata-kata Paman Fred, tapi jawabanku tak ada artinya setelah paman Fred
melanjutkan ceritanya ‘Kian telah pergi
jauh, bukan London, bukan Inggris tetapi ia telah di surga bersama ibu dan
ayahnya. Ia mengalami kecelakaan maut di Sligo. Aku kaget, hatiku berdebar
dan setelah itu semuanya hitam.” Jawabku.
“Lalu, setelah kamu sadar?” tanyanya lagi.
“Saat aku
sadar, aku belum bisa mempercayai semua ini. Ibu memberiku minum. Aku sudah
tidak melihat paman Fred dimanapun. Setelah aku baikan ibu memberiku selembar
kertas ‘Kata Paman Fred berikan ini pada
Emma, ini surat dari Kian. Ia menulisnya di rumah sakit di Sligo saat
detik-detik terakhirnya’ ya aku tahu itu, sebagian kertas itu berlumuran darah,
itu mungkin darah Kian” Tanganku gemetar.
“Isinya?”
Rey benar-benar terobsesi dengan kisahku ini.
“Kuucapkan doa kecil, berharap mimpi kita kan
jadi kenyataan. Dimana langit berwarna biru. Di atas laut dari kapal ke kapal,
untuk menemukan tempat paling indah. Dimana rumput berwarna hijau disana
kumelihatmu kembali, cintaku” Aku mengucapkan kata-kata terakhir Kian, aku
masih hapal kata-kata itu.
Rey
menyodorkan koran yang ia ambil dari anak kecil tadi. Itu adalah koran 2
November 2001. Kemudian ia menanyakan sesuatu.
“Kamu tak
baca koran?” tanya Rey
Aku memang
orang paling malas membaca koran. Bahkan tak ada koran satu pun dirumahku,
karena ayahku lebih suka menonton daripada membaca. Oh ya, aku menjawab
pertanyaan Rey dengan gelengan kepala.
“Apa kamu
tak menanyakan kepada Paman Fred tanggal kematian Kian?” Tanya Rey membuatku
kaget dan kebingungan.
Jawaban sama
gelengan kepala. Rey kemudian mengunggapkan sesuatu yang mebuatku kaget tak
merasakan apa-apa.
“Sekarang
kamu buka, halaman 3 koran itu!” perintah Rey
Aku membaca
koran itu sembari kebingungan dan menemukan hal yang ganjil.
“Kecelakaan
menimpa satu keluarga saat perjalanan menuju Sligo pada tanggal 1 November
pukul 22.00. Ternayata dapat diketahui bahwa keluarga itu adalah keluarga
Redley yang berasal dari Dublin dari identitas salah seorang korban”
Pandanganku kabur, mataku berkunang-kunang. Aku sempat ingin tersungkur tapi
untunglah Rey menangkapku.
Rey kemudian
mengajakku duduk di sebuah bangku taman. Ia mengajakku membongkar kenyataan.
“Emma, tadi
kamu katakan Rey meninggalkanmu menuju London tanggal 2 November, tetapi
kenyataannya Kian meninggal dalam perjalanan menuju Sligo pada tanggal 1
November. Emma?” tanyanya serius. Sekarang aku tahu mengapa Rey sangan
terobsesi dengan kisah ini.
“Aku juga
tidak tahu, ya aku tidak mungkin salah ingat. Aku selalu mengingat hari-hari
pentingku bersama Kian. Dan hari itu tanggal 2 November” Jawabku.
Aku lemas
seketika. Aku tak mampu lagi mengatakan apa-apa. Tetapi, aku kembali berdiri
saat melihat Kian tersenyum padaku di belakang Rey. Rey menyaksikan kejadian
itu. Kejadian dimana aku memeluk Kian yang sesungguhnya bukan Kian lagi karena
dia telah meninggal. Sekarang aku tahu bahwa cinta Kian akan selalu bersama aku
dimana aku berada. Kian melepaskan pelukanku dan menghilang bersama cahaya
matahari yang sangat terik.
Aku
membalikkan badanku kutatap muka Rey yang seakan tak percaya kejadian itu. Aku
tersenyum kepada Rey sembari mengucapkan “Terimakasih”.
Kata
terimakasih itu mebuyarkan lamunan Rey. Kemudian Rey berkata “Lalu kertas itu,
dimana?”
“Kertas
apa?” tanyaku
“Kertas yang
kau berikan Kian tanggal 2 November” jawabnya
Aku menarik
tangan Rey, mencoba mengajaknya meninggalkan St. Stephen's Green. Kemudian di
perjalanan aku menjawab pertanyaan Rey “Kertas itu, tanya aja pada Kian!”.
Sekarang,
cintaku dan Kian kini tinggal kisah. Dan kembali merajut kisah kasih bersama
Rey.
DORR AKU DONG!
“Ahhh… tolong! Hentikan,
hentikan, jangan tembak aku. Ibu.. Ayah..”Teriakan Lily pagi itu membuat
sekampung gempar. Puluhan orang berkerumun di depan rumah Lily.
“Mungkin pencuri” Kata
salah satu ibu yang mau ke pasar.
“Bukan, itu pasti pemorkosaan”
Kata ibu – ibu yang lain.
“Tidak mungkin! Itu pasti
polisi” Kata penjual sayur yang lewat di antara kerumunan orang. “Teroris!”
Teriak seorang anak muda yang tiba – tiba muncul dari kerumunan orang. Era
Teriakan tersebut membuat public di depan rumah Lily menjadi panik dan segera
mencari tempat perlindungan. Tiba – tiba terdengar suara sayup – sayup suara
mobil, anggota kepolisian dan densus 88 telah tiba di perempatan terdekat di
rumah Lily. Sebagian besar anggota kerumunan mundur dari lokasi kejadian
perkara. Beberapa anggota densus 88 berlari dengan gagahnya memakai baju
seperti baju astronot. Sebagian besar anak – anak ketakutan dan sebagian
lainnya tertawa sambil menganga.
Sementara itu, Ibu Maya,
ibu Lily, yang dari pagi buta tadi ketakutan mendengar jeritan anak bungsunya
berlindung di ketiak tetangganya. Ayah Lily dan Pak Kepala Desa dengan
seriusnya menjawab pertanyaan polisi. Tidak lama kemudian, giliran para
wartawan dari televisi lokal, majalah dan koran berdatangan. Para anggota kerumunan
berteriak kegirangan saat lampu kamera menyorot mereka.
“Kita masuk TV, pak
Presiden saya Paejo” kata kepala keamanan yang membantu para polisi ganteng
menjaga agar para masyarakat tak mendekat.
“Apakah pintu kamar anak
bapak terkunci?” Tanya seorang polisi kepada Ayah Lily.
“Tidak” Jawab ayah Lily.
“Ooh.. baiklah” kata Pak
Polisi
Setelah mendengar
pernyataan Ayah Lily, polisi tersebut menyuruh anggota densus 88 masuk ke dalam
rumah Lily dan langsung menuju kamar Lily. Sementara itu, Ibu Maya tak henti –
hentinya menangis di bawah ketiak tetangganya.
Kembali ke kamar Lily,
anggota densus 88 siap membuka pintu kamar Lily, tiba – tiba terdengar suara
tembakan dari dalam kamar tersebut. Seluruh anggota densus 88 merunduk bahkan
sampai tiarap da nada pula yang tersungkur. Salah satu anggota densus 88
memberi kode ke anggota kepolisian bahwa ada suara tembakan dari dalam. Setelah
melihat kode tersebut, salah satu polisi berteriak “Turunkan senjatamu, kami
telah mengepung rumah ini.”
Akhirnya, densus 88 kembali
berusaha membuka pintu kamar tersebut. Dengan perlahan – lahan pintu kamar
tersebut terbuka, seluruh anggota densus 88 merunduk. Anggota densus 88
mendapati Lily terbaring di atas tempat tidur. Salah satu anggota densus
mencoba menyadarkannya (membangunkannya), akhirnya Lily terbangun sambil
menguap lebar, bau mulutnya seperti telur busuk. Lily kaget dan berteriak
“Siapa kamu?”
“Kamu taka apa – apa?”
Tanya salah satu anggota densus 88
“Apa yang terjadi dengan
saya, mana orang tua saya?” Lily merasa kebingungan.
Tiba – tiba ibu Maya dan
Pak Lukman muncul. Lily langsung berlari ke arah ibunya dan langsung bertanya
“Apa yang terjadi, mereka siapa?”. “Mereka adalah anggota densus 88” Jawab ibu
Maya. Secepat kilat dahi Lily langsung berubah mengkerut.
“Kamu tadi berteriak,
Tolong… jangan tembak saya, kamu lupa?” Tanya Ayah Lily.
“Oohh… saya tadi mimpi
ditembak sama cowok, caranya romantic sekali, tetapi ayah dan ibu kan tahu saya
kan cewek yang takut ditembak”
Mendengar pernyataan itu
seluruh orang yang hadir di dalam kamar tersebut membelalakkan mata, bahkan
hamper copot. Rasa tak percaya mereka semakin menjadi - jadi ketika mendengar
suara tembakan dari jam weker yang ada di atas meja Lily.
“Maafkan saya pak, ini hanya kesalahan tekhnis
saja, sekali lagi saya minta maaf” kata Ayah Lily.
“Mana terorisnya” Tanya
Pak Paejo.
“Kabur” jawab salah satu
anggota densus 88
“Huuuuu…………” teriak semua
anggota kerumunan.
Keesokan harinya Lily
menjadi bahan olok – olokan temannya, secepat kilat berita memalukan tersebut
tersebar. Beberapa cowok menjadi nggak respeck lagi dengan Lily, tapi tidak
dengan Aidil, cowok yang mengejar – ngejar Lily sejak kelas 1 SMA, gayanya
culun tapi imut. Setiap kali bertemu Lily, Aidil selalu berusaha mengungkapkan
perasaannya dengan berbagai macam bahasa dan kata – kata gombal yang unik tapi
tak pernah didengarkan oleh Lily karena Lily adalah cewek anti kata cinta.
Hingga pada suatu hari, saat jam istirahat di sekolah Lily, Aidil memberanikan
diri mengungkapkan perasaannya dengan menggunak pengeras suara dihadapan para
guru dan siswa di sekolah Lily.
“Lily! Terserah kamu mau
mendengarkan aku atau tidak, aku akan mengungkapkan semuanya. Lily, AKU CINTA
KAMU, I LOVE YOU, AISHITERU, ICH LIEBE DICH, TE AMO, JE T'AIME” Teriak Aidil
dengan lantangnya. Lily hamper kehabisan nafas, detak jantungnya seakan
berhenti seketika, dan dunia berhenti berputar saat mendengar kata – kata
tersebut, baginya itu hanya kata – kata bohong belaka, walaupun sebenarnya ia
tahu bahwa Aidil adalah cowok yang polos. Sementara itu, Aidil tetap
melanjutkan orasinya tampa mempedulikan olok – olokan teman –temannya.
“Cie…. Co Cweet… Co
cweet.. mau dong” kata sebagian teman – temannya.
“Lily! Aku mencitaimu
lebih dari nyawaku sendiri. Aku mohon jadilah pac…………” Orasi Aidil terpotong
oleh langka seorang cowok manis berkulit putih, dengan alis tebal, elegant hair
style, hidung mancung dan senyum manis yang mewarnai wajahnya. Gayanya cool dan
terlihat sopan, semua mata tertuju ke arahnya, ia melemparkan senyum manis ke
setiap orang yang ia temui. Ia melangkah terus hingga berhenti tepat di depan
Lily, ia menatap dalam – dalam mata Lily begitupun sebaliknya. Kemudian, cowok
cool itu membungkuk di hadapan Lily, dan akhirnya ia mengikat tali sepatu Lily
yang terlepas, semua mata di sekolah itu memperhatikan kejadian itu tak ada
lagi yang memperhatikan orasi Aidil. Tampaknya Lily sudah benar – benar
merasakan benih – benih cinta tumbuh di hatinya setelah tersiram oleh kesejukan
senyuman cowok cool tadi.
“Ting ting ting” suara
bel masuk berbunyi, semua anak berlarian ke dalam kelas. Menyisahkan Aidil,
Lily dan Luna yang masih berdiri di tempat mereka masing – masing. Aidil
terpaku sedih cintanya tak ditanggapi, Lily masih terbuai oleh keindahan cinta,
dan Luna berusaha mengajak Lily masuk ke dalam kelas.
“Selamat siang” sapa Bu
Nia, guru Bahasa Indonesia yang akan mengajar Lily dan kawan – kawan.
“Selamat siang bu” jawab
para murid.
“Oke, sebelum kita
memulai pelajaran saya akan memperkenalkan siswa baru yang akan menempati kelas
kalian” kata Bu Nia
“huuu…” semua murid
berteriak kecuali Lily dan Luna.
“Ayo nak perkenalkan
dirimu” kata Bu Nia kepada siswa baru tersebut.
“Lily, lihat” tegur Luna
kepada Lily
Mata Lily membelalak
seperti ada malaikat yang lewat di hadapannya.
“Hi, teman – teman, nama
saya Muhammad Adriawan Nur, terserah mau panggil saya apa. Saya pindahan dari
SMAN 6 Makassar” Ternyata cowok cool tadi yang menjadi siswa baru di sekolah
Lily.
“Bolehkah saya panggil
kamu Awan?” Tanya Lily.
“Kenapa Awan?” cowok itu
balik bertanya.
“Karena kamu telah
menduhkan hatiku dengan senyumanmu” jawab Lily.
Semua orang yang berada
dalam kelas itu kaget luar biasa termasuk Bu Nia. Lily yang mereka tahu adalah
Lily yang tak puitis sama sekali apalagi mengenai cinta, bahkan Lily adalah
cewek anti kata cinta buktinya kejadian kemarin saat Lily berteriak histeris
ketika mimpi ditembak sama cowok. Mengetahui Lily berubah menjadi puitis itu
adalah anugerah terbesar.
“Lily, kamu baik – baik
saja kan?” Tanya Luna
“Awan….”
“Ha!” Luna kaget
mendengar jawaban Lily.
“Awan silahkan duduk
ditempat yang kosong” perintah Bu Nia.
Awan duduk diebelah Riko,
cowok yang paling gokil di kelas Lily.
“Oke anak – anak
pelajaran kita hari ini tentang puisi………….”
“Hi, aku Riko” sapa Riko
kepada Awan.
“Hi, Awan” jawab Awan.
“Emangnya nama kamu
beneran Awan?” Tanya Riko
“Iya” jawab Awan.
Riko membelalakkan
matanya sakin tak percayanya.
“Riko, cewek lucu yang di
sebelah sana itu siapa?” Tanya Awan sambil menunjuk ke arah Lily.
“Lily? Oh.. namanya Lily
Lukman, ia adalah cewek paling aneh yang bersekolah di sekolah ini, dia sangat
takut ditembak, sampai – sampai menghebohkan satu kampung karena mimpi ditembak
sama cowok” jelas Riko panjang lebar.
Awan hanya tersenyum
mendengar penjelasan Riko.
Setelah Awan berada di
sekolah tersebut selama beberapa minggu, Lily tak henti – hentinya
memperhatikan Awan. Matanya selalu mentap ke mata Awan. Kata Lily mata Awan
seperti cahaya mentari senja yang menembus embun keabadian.
Setelah lama memendam
rasa yang tak karuan, Lily memberanikan diri mengirim surat ke Awan melalui
Luna yang berisi keinginannya untuk ditembak oleh Awan.
Dear : Awan
Saat pertama kali aku
melihatmu, dunia ini seakan berhenti berputar, matamu telah mengalihkan
duniaku, senyummu menyemati hidupku. Aku terkesan denganmu.
Saat surat itu sampai ke
tangan Awan, Awan sampai tersenyum – senyum kecil membacanya, ia kemudian
membalas surat itu.
Dear : Lily
Aku sudah membaca
suratmu, isinya indah. Aku ingin bertemu kamu di taman sepulang sekolah.
Saat menerima balasan
surat itu, hati Lily sudah berbunga – bunga. Apakah dia akan ditembak?
Setelah tiba ditaman,
Awan sudah menunggunya, Awan tersenyum manis melihat kedatangan Lily, Lily pun
sebaliknya. Tetapi, ketika Lily berjalan mendekati Awan, Awan tiba – tiba
menodongkan sebuah pistol ke arah Lily. Lily sangat kaget melihat apa yang
dilakukan Awan.
“Bukankah ini yang kau
inginkan? Ditembak?” Tanya Awan.
“Ahhh… tolong! Hentikan,
hentikan, jangan tembak aku. Ibu.. Ayah..” Lily berteriak sambil menutup
matanya rapat – rapat. Tiba – tiba terdengar suara tembakan “Dorr..”
“Ahhh…..” Lily berteriak
– teriak sekeras – kerasnya.
Setelah Lily berteriak
suasana menjadi hening, Lily membuka matanya, didapatinya sebuah rangkaian bunga
mawar keluar dari pistol tersebut. Lily benar – benar terkejut. Ia langsung
memeluk Awan dengan erat, tiba – tiba suara tepuk tangan terdengar.
“Ayah, Ibu…..”
Ternyata Ayah dan Ibu
Lily serta semua yang hadir saat Lily menggemparkan kampungnya termasuk anggota
kepolisian dan densus 88 hadir dalam acara ini. Semua teman – teman serta guru
– guru Lily termasuk Aidil yang berbelok ke Luna juga ada.
Bukan lagi kata
“Huuuuuu……..” yang didapatkan oleh Lily tetapi kata “Cie……….”.
Pak Paejo : Cinta………
