0

CERPEN


2 NOVEMBER
Jika kita putar waktu 10 tahun kebelakang, ini akan terasa aneh dan menyakitkan bagiku. Aku mencoba melupakan semua itu, aku mohon jangan ingatkan aku akan masa laluku yang begitu menyakitkan.
Itu yang kukatakan pada Rey beberapa hari yang lalu. Ia memaksaku mengatakan apa yang terjadi 10 tahun yang lalu. Ia memang benar-benar ingin tahu. Aku sendiri bingun mengapa aku tidak bisa mengatakan apa-apa? Atau mungkin ini terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.
Hari itu, Rey meninggalkanku dengan muka kecewa karena aku malas mengingat-ingat kejadian itu. Tetapi hari ini, aku sungguh ingin menuangkan isi hatiku pada siapapun yang ingin mendengarkan dan mengerti. Ya salah satunya Rey. Perasaan ini aku dapat setelah aku bermimpi bertemu Kian lagi. Mengapa dia harus datang lagi?
Tepat pukul 9.00 aku mencari-cari Rey, entah kemana dia pergi. Biasanya jika tidak di kelas dia berada di perpustakaan kampus. Ini aneh sekali, apakah Rey pergi seperti Kian meninggalkanku. Itu tidak mungkin, Rey bukan Kian. Aku coba meyakinkan diriku.
“Joanna!” teriakku ketika aku melihat teman kelas Rey.
“Iya? Ada apa Emma?” ia lontarkan pertanyaan biasa kepadaku.
“Apakah kamu, ya kamu! Apakah kamu melihat Rey?” tanyaku masih terengah-engah karena kelelahan mencari Rey.
“Rey? Kelas, pepustakaan?” katanya balik bertanya
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Taman kota! St. Stephen's Green!” teriak Leo, salah satu teman Rey yang paling terobsesi dengan novel Harry Potter. Bahkan sebagian temannya memanggilnya Sirius karena sangat mirip dengan teman ayah Harry itu.
Thanks” ucapku sembari lari mengejar sebuah taxi.
“St. Stephen's Green!” kataku pada sopir taxi itu.
Sopir itu hanya menganggu-angguk.
Sesampainya di St. Stephen's Green aku mencari-cari Rey. Mataku tertuju pada sesosok lelaki yang berdiri di salah satu jalan di taman St. Stephen's Green. Ia menegur seorang anak perempuan dan meminta selembar koran bekas. Aku bertanya-tanya untuk apa koran itu.
“Rey!” teriakku sekeras mungkin agar ia mendengarnya.
Lelaki itu berbalik dan tersenyum manis, senyumnya semanis anggur Turin. Matanya mengecil, bagian diantara alisnya mengerut tandanya ia mecoba melihatku dengan jelas karena mungkin pandangannya terhalau terik Irlandia.
“Emma?” katanya sayup-sayup tapi aku masih bisa mendengarnya.
Aku berlari mendekatinya, kugenggam jemarinya. Aku tak tahu mengapa aku memeluknya tanda tak ingin kehilangan dia.
“Kamu tak berpikir aku akan meninggalkanmu seperti Kian meninggalkanmu, kan?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya menjawabnya dengan melepas pelukanku dan tersenyum kembali padanya.
“Jadi?” tanyanya singkat. Aku langsung mengerti apa yang ia maksud.
Kami berjalan-jalan di taman St. Stephen's Green sambil meneropong 10 tahun yang lalu.
“Waktu itu umurku masih 17 tahun” aku terdiam, rasanya sakit sekali. Namun aku coba melanjutkan “Tanggal 30 Oktober 2001, Kian datang menemuiku di taman sekolah. Ia tersenyum padaku” aku belum bisa melupakan senyumnya karena senyum itu sama persis dengan senyum Rey.
“Disana Kian mencoba mengatakan sesuatu padaku, ia menggengam tanganku erat sekali, aku saat itu kebingungan. Ia memelukku, saat itu aku merasakan jantungnya berdebar sangat kencang” aku terdiam sejenak, mencoba mengambil napas panjang. Aku sangat kanget ketika Rey melontarkan pertanyaan singkatnya “Lalu?”
“Kian mengatakan sesuatu, hatiku berdebar”
’aku akan ke London selama seminggu’ itu yang dikatakan Kian. Aku melepas pelukannya. Aku tertawa di hadapannya sembari menggeleng-gelengkan kepalaku. Aneh sekali Dublin – London dan hanya seminggu. Aku bertanya kepada Kian ‘Ada apa, Kian? Ini hanya London’. Kian kembali memelukku, ia meneteskan air matanya. ‘ya ini hanya London, tapi bagiku ada yang aneh, aku merasa akan pergi jauh untuk slamanya’. Aku membalas pelukannya erat sekali.” Aku menatap mata Rey.
Rey membalas menatap mataku. Aku tak tahan lagi, sebuah sungai kecil mengalir dari kelopak mataku. Rey mengeluarkan sapu tangannya, ia fungsikan sapu tangan itu untuk menghapus air mataku.
“Lalu, apa yang terjadi?” kata Rey berambisius sekali mengetahui kejadian itu.
Aku mencoba melanjutkan, “Aku mengatakan pada Kian bahwa aku akan ada dimanapun ia berada”
Rey tersenyum, “Kamu takut kehilangan Kian seperti Kian takut kehilanganmu?” pertanyaan yang mudah sekali bagiku.
“Ada sesuatu dalam diri Kian yang membuatku sulit sekali melepasnya, dia seperi matahariku” jawabku.
“Lalu, kamu biarkan Kian pergi?” tanya Rey. Pertanyaan itu seakan menyayat hatiku. Jawabanku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Air mataku melucur deras.
“Tanggal 2 November, hari dimana Kian pergi ke London. Kian saat itu sangat takut. Sebelum ke bandara Kian menemuiku dulu. Disini, di taman ini. Ia mengucapkan selamat tinggal, tapi baginya mengucapkan selamat tinggal itu berat sekali. Seakan dia akan pergi jauh untuk slamanya. Aku hanya tersenyum, aku meneteskan air mata. Kami berdua bepelukan. Kian sama sekali tidak ingin melepas pelukanku. Aku coba menenangkannya dengan memberinya selembar kertas bertuliskan Tuhan, aku sangat beruntung karena kau mengirimkan seseorang yang sangat menyayangiku. Jadi, tolong jangan kau ambil dia dariku. Karena esok kami akan bermimpi bersama. Selamatkan hatinya untuk mencintaiku. Ini sulit untuk mengetahui satu keyakinan kita” aku mengucapkan kata-kata yang aku tulis diatas selembar kertas dihadapan Rey.
“Lalu kertas itu? Sekarang dimana?” Tanyanya
“Di... “ aku menangi sejadi-jadinya.
Rey menenangkanku, ia berusaha membuatku bercerita kembali.
“Saat Kian akan pergi, entah mengapa tanganku sulit sekali melepasnya. Namun, bagaimanapun juga Kian harus pergi. Dengan berat hati aku melepasnya” Lanjutku dengan mata yang masih berair.
“Aku melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai Kian pergi. Saat itu air mataku mengalir sejadi-jadinya” Napasku berat sekali.
Rey memasang muka penasaran dengan kejadian malam itu. Ya malam itu, malam kedua setelah Kian pergi. Atau tepatnya 3 November malam.
“Rey, saat itu hujan deras sekali. Mungkin kamu tahu lagu Gun ‘N Roses November Rain?” tanyaku mendramatisir keadaan.
“Yap” jawabnya singkat
“Saat itu pukul 21.00, seseorang mengetuk pintu rumahku. Ibuku membuka pintu. Yang aku lakukan saat itu membolak-balikkan album fotoku bersama Kian dalam kamar. Ibuku berteriak ‘Emma’. Aku menjawab teriakan ibuku ‘Ya, Ibu?. Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Yang aku dapati ibu dan ayahku berpelukan, ayahku menengkan ibu yang saat itu menangis. Aku melihat seorang lelaki jangkun berumur sekitar 35 tahun memasang muka sedih. Ya, aku langsung mengenalinya itu Paman Fred, Kakak lelaki ibu Kian. Dia memegang sebuah ketas coklat di tangannya. ‘Ada apa ini?’ semua orang yang ada diruangan itu menoleh ke arahku. ‘Emma’ ibu mengajakku duduk di sofa ruang tamu. Paman Fred memegang tanganku. Aku merasakan tangannya gemetar, dingin sekali. Aku masih dalam keadaan bingun, aku berpikir ada yang tidak beres. Tiba-tiba Paman Fred mengatakan sesuatu yang membuatku kehilangan cahaya semuanya hitam...” Aku sulit sekali melanjutkan, tetapi pertanyaan Rey mebuatku tegar.
“Apa yang dikatakan paman Fred?” tanya Rey.
Bibirku gemetar “Yang dikatakan Paman Fred, kamu mungkin tak kan percaya ‘Emma, Kian telah pergi’ aku menjawab kata-kata Paman Fred, tapi jawabanku tak ada artinya setelah paman Fred melanjutkan ceritanya ‘Kian telah pergi jauh, bukan London, bukan Inggris tetapi ia telah di surga bersama ibu dan ayahnya. Ia mengalami kecelakaan maut di Sligo. Aku kaget, hatiku berdebar dan setelah itu semuanya hitam.” Jawabku.


“Lalu, setelah kamu sadar?” tanyanya lagi.
“Saat aku sadar, aku belum bisa mempercayai semua ini. Ibu memberiku minum. Aku sudah tidak melihat paman Fred dimanapun. Setelah aku baikan ibu memberiku selembar kertas ‘Kata Paman Fred berikan ini pada Emma, ini surat dari Kian. Ia menulisnya di rumah sakit di Sligo saat detik-detik terakhirnya’ ya aku tahu itu, sebagian kertas itu berlumuran darah, itu mungkin darah Kian” Tanganku gemetar.
“Isinya?” Rey benar-benar terobsesi dengan kisahku ini.
Kuucapkan doa kecil, berharap mimpi kita kan jadi kenyataan. Dimana langit berwarna biru. Di atas laut dari kapal ke kapal, untuk menemukan tempat paling indah. Dimana rumput berwarna hijau disana kumelihatmu kembali, cintaku” Aku mengucapkan kata-kata terakhir Kian, aku masih hapal kata-kata itu.
Rey menyodorkan koran yang ia ambil dari anak kecil tadi. Itu adalah koran 2 November 2001. Kemudian ia menanyakan sesuatu.
“Kamu tak baca koran?” tanya Rey
Aku memang orang paling malas membaca koran. Bahkan tak ada koran satu pun dirumahku, karena ayahku lebih suka menonton daripada membaca. Oh ya, aku menjawab pertanyaan Rey dengan gelengan kepala.
“Apa kamu tak menanyakan kepada Paman Fred tanggal kematian Kian?” Tanya Rey membuatku kaget dan kebingungan.
Jawaban sama gelengan kepala. Rey kemudian mengunggapkan sesuatu yang mebuatku kaget tak merasakan apa-apa.
“Sekarang kamu buka, halaman 3 koran itu!” perintah Rey
Aku membaca koran itu sembari kebingungan dan menemukan hal yang ganjil.
“Kecelakaan menimpa satu keluarga saat perjalanan menuju Sligo pada tanggal 1 November pukul 22.00. Ternayata dapat diketahui bahwa keluarga itu adalah keluarga Redley yang berasal dari Dublin dari identitas salah seorang korban” Pandanganku kabur, mataku berkunang-kunang. Aku sempat ingin tersungkur tapi untunglah Rey menangkapku.
Rey kemudian mengajakku duduk di sebuah bangku taman. Ia mengajakku membongkar kenyataan.
“Emma, tadi kamu katakan Rey meninggalkanmu menuju London tanggal 2 November, tetapi kenyataannya Kian meninggal dalam perjalanan menuju Sligo pada tanggal 1 November. Emma?” tanyanya serius. Sekarang aku tahu mengapa Rey sangan terobsesi dengan kisah ini.
“Aku juga tidak tahu, ya aku tidak mungkin salah ingat. Aku selalu mengingat hari-hari pentingku bersama Kian. Dan hari itu tanggal 2 November” Jawabku.
Aku lemas seketika. Aku tak mampu lagi mengatakan apa-apa. Tetapi, aku kembali berdiri saat melihat Kian tersenyum padaku di belakang Rey. Rey menyaksikan kejadian itu. Kejadian dimana aku memeluk Kian yang sesungguhnya bukan Kian lagi karena dia telah meninggal. Sekarang aku tahu bahwa cinta Kian akan selalu bersama aku dimana aku berada. Kian melepaskan pelukanku dan menghilang bersama cahaya matahari yang sangat terik.
Aku membalikkan badanku kutatap muka Rey yang seakan tak percaya kejadian itu. Aku tersenyum kepada Rey sembari mengucapkan “Terimakasih”.
Kata terimakasih itu mebuyarkan lamunan Rey. Kemudian Rey berkata “Lalu kertas itu, dimana?”
“Kertas apa?” tanyaku
“Kertas yang kau berikan Kian tanggal 2 November” jawabnya
Aku menarik tangan Rey, mencoba mengajaknya meninggalkan St. Stephen's Green. Kemudian di perjalanan aku menjawab pertanyaan Rey “Kertas itu, tanya aja pada Kian!”.
Sekarang, cintaku dan Kian kini tinggal kisah. Dan kembali merajut kisah kasih bersama Rey.

DORR AKU DONG!
“Ahhh… tolong! Hentikan, hentikan, jangan tembak aku. Ibu.. Ayah..”Teriakan Lily pagi itu membuat sekampung gempar. Puluhan orang berkerumun di depan rumah Lily.
“Mungkin pencuri” Kata salah satu ibu yang mau ke pasar.
“Bukan, itu pasti pemorkosaan” Kata ibu – ibu yang lain.
“Tidak mungkin! Itu pasti polisi” Kata penjual sayur yang lewat di antara kerumunan orang. “Teroris!” Teriak seorang anak muda yang tiba – tiba muncul dari kerumunan orang. Era Teriakan tersebut membuat public di depan rumah Lily menjadi panik dan segera mencari tempat perlindungan. Tiba – tiba terdengar suara sayup – sayup suara mobil, anggota kepolisian dan densus 88 telah tiba di perempatan terdekat di rumah Lily. Sebagian besar anggota kerumunan mundur dari lokasi kejadian perkara. Beberapa anggota densus 88 berlari dengan gagahnya memakai baju seperti baju astronot. Sebagian besar anak – anak ketakutan dan sebagian lainnya tertawa sambil menganga.
Sementara itu, Ibu Maya, ibu Lily, yang dari pagi buta tadi ketakutan mendengar jeritan anak bungsunya berlindung di ketiak tetangganya. Ayah Lily dan Pak Kepala Desa dengan seriusnya menjawab pertanyaan polisi. Tidak lama kemudian, giliran para wartawan dari televisi lokal, majalah dan koran berdatangan. Para anggota kerumunan berteriak kegirangan saat lampu kamera menyorot mereka.
“Kita masuk TV, pak Presiden saya Paejo” kata kepala keamanan yang membantu para polisi ganteng menjaga agar para masyarakat tak mendekat.
“Apakah pintu kamar anak bapak terkunci?” Tanya seorang polisi kepada Ayah Lily.
“Tidak” Jawab ayah Lily.
“Ooh.. baiklah” kata Pak Polisi
Setelah mendengar pernyataan Ayah Lily, polisi tersebut menyuruh anggota densus 88 masuk ke dalam rumah Lily dan langsung menuju kamar Lily. Sementara itu, Ibu Maya tak henti – hentinya menangis di bawah ketiak tetangganya.
Kembali ke kamar Lily, anggota densus 88 siap membuka pintu kamar Lily, tiba – tiba terdengar suara tembakan dari dalam kamar tersebut. Seluruh anggota densus 88 merunduk bahkan sampai tiarap da nada pula yang tersungkur. Salah satu anggota densus 88 memberi kode ke anggota kepolisian bahwa ada suara tembakan dari dalam. Setelah melihat kode tersebut, salah satu polisi berteriak “Turunkan senjatamu, kami telah mengepung rumah ini.”
Akhirnya, densus 88 kembali berusaha membuka pintu kamar tersebut. Dengan perlahan – lahan pintu kamar tersebut terbuka, seluruh anggota densus 88 merunduk. Anggota densus 88 mendapati Lily terbaring di atas tempat tidur. Salah satu anggota densus mencoba menyadarkannya (membangunkannya), akhirnya Lily terbangun sambil menguap lebar, bau mulutnya seperti telur busuk. Lily kaget dan berteriak “Siapa kamu?”
“Kamu taka apa – apa?” Tanya salah satu anggota densus 88
“Apa yang terjadi dengan saya, mana orang tua saya?” Lily merasa kebingungan.
Tiba – tiba ibu Maya dan Pak Lukman muncul. Lily langsung berlari ke arah ibunya dan langsung bertanya “Apa yang terjadi, mereka siapa?”. “Mereka adalah anggota densus 88” Jawab ibu Maya. Secepat kilat dahi Lily langsung berubah mengkerut.
“Kamu tadi berteriak, Tolong… jangan tembak saya, kamu lupa?” Tanya Ayah Lily.
“Oohh… saya tadi mimpi ditembak sama cowok, caranya romantic sekali, tetapi ayah dan ibu kan tahu saya kan cewek yang takut ditembak”
Mendengar pernyataan itu seluruh orang yang hadir di dalam kamar tersebut membelalakkan mata, bahkan hamper copot. Rasa tak percaya mereka semakin menjadi - jadi ketika mendengar suara tembakan dari jam weker yang ada di atas meja Lily.
 “Maafkan saya pak, ini hanya kesalahan tekhnis saja, sekali lagi saya minta maaf” kata Ayah Lily.
“Mana terorisnya” Tanya Pak Paejo.
“Kabur” jawab salah satu anggota densus 88
“Huuuuu…………” teriak semua anggota kerumunan.
Keesokan harinya Lily menjadi bahan olok – olokan temannya, secepat kilat berita memalukan tersebut tersebar. Beberapa cowok menjadi nggak respeck lagi dengan Lily, tapi tidak dengan Aidil, cowok yang mengejar – ngejar Lily sejak kelas 1 SMA, gayanya culun tapi imut. Setiap kali bertemu Lily, Aidil selalu berusaha mengungkapkan perasaannya dengan berbagai macam bahasa dan kata – kata gombal yang unik tapi tak pernah didengarkan oleh Lily karena Lily adalah cewek anti kata cinta. Hingga pada suatu hari, saat jam istirahat di sekolah Lily, Aidil memberanikan diri mengungkapkan perasaannya dengan menggunak pengeras suara dihadapan para guru dan siswa di sekolah Lily.
“Lily! Terserah kamu mau mendengarkan aku atau tidak, aku akan mengungkapkan semuanya. Lily, AKU CINTA KAMU, I LOVE YOU, AISHITERU, ICH LIEBE DICH, TE AMO, JE T'AIME” Teriak Aidil dengan lantangnya. Lily hamper kehabisan nafas, detak jantungnya seakan berhenti seketika, dan dunia berhenti berputar saat mendengar kata – kata tersebut, baginya itu hanya kata – kata bohong belaka, walaupun sebenarnya ia tahu bahwa Aidil adalah cowok yang polos. Sementara itu, Aidil tetap melanjutkan orasinya tampa mempedulikan olok – olokan teman –temannya.
“Cie…. Co Cweet… Co cweet.. mau dong” kata sebagian teman – temannya.
“Lily! Aku mencitaimu lebih dari nyawaku sendiri. Aku mohon jadilah pac…………” Orasi Aidil terpotong oleh langka seorang cowok manis berkulit putih, dengan alis tebal, elegant hair style, hidung mancung dan senyum manis yang mewarnai wajahnya. Gayanya cool dan terlihat sopan, semua mata tertuju ke arahnya, ia melemparkan senyum manis ke setiap orang yang ia temui. Ia melangkah terus hingga berhenti tepat di depan Lily, ia menatap dalam – dalam mata Lily begitupun sebaliknya. Kemudian, cowok cool itu membungkuk di hadapan Lily, dan akhirnya ia mengikat tali sepatu Lily yang terlepas, semua mata di sekolah itu memperhatikan kejadian itu tak ada lagi yang memperhatikan orasi Aidil. Tampaknya Lily sudah benar – benar merasakan benih – benih cinta tumbuh di hatinya setelah tersiram oleh kesejukan senyuman cowok cool tadi.
“Ting ting ting” suara bel masuk berbunyi, semua anak berlarian ke dalam kelas. Menyisahkan Aidil, Lily dan Luna yang masih berdiri di tempat mereka masing – masing. Aidil terpaku sedih cintanya tak ditanggapi, Lily masih terbuai oleh keindahan cinta, dan Luna berusaha mengajak Lily masuk ke dalam kelas.
“Selamat siang” sapa Bu Nia, guru Bahasa Indonesia yang akan mengajar Lily dan kawan – kawan.
“Selamat siang bu” jawab para murid.
“Oke, sebelum kita memulai pelajaran saya akan memperkenalkan siswa baru yang akan menempati kelas kalian” kata Bu Nia
“huuu…” semua murid berteriak kecuali Lily dan Luna.
“Ayo nak perkenalkan dirimu” kata Bu Nia kepada siswa baru tersebut.
“Lily, lihat” tegur Luna kepada Lily
Mata Lily membelalak seperti ada malaikat yang lewat di hadapannya.
“Hi, teman – teman, nama saya Muhammad Adriawan Nur, terserah mau panggil saya apa. Saya pindahan dari SMAN 6 Makassar” Ternyata cowok cool tadi yang menjadi siswa baru di sekolah Lily.
“Bolehkah saya panggil kamu Awan?” Tanya Lily.
“Kenapa Awan?” cowok itu balik bertanya.
“Karena kamu telah menduhkan hatiku dengan senyumanmu” jawab Lily.
Semua orang yang berada dalam kelas itu kaget luar biasa termasuk Bu Nia. Lily yang mereka tahu adalah Lily yang tak puitis sama sekali apalagi mengenai cinta, bahkan Lily adalah cewek anti kata cinta buktinya kejadian kemarin saat Lily berteriak histeris ketika mimpi ditembak sama cowok. Mengetahui Lily berubah menjadi puitis itu adalah anugerah terbesar.
“Lily, kamu baik – baik saja kan?” Tanya Luna
“Awan….”
“Ha!” Luna kaget mendengar jawaban Lily.
“Awan silahkan duduk ditempat yang kosong” perintah Bu Nia.
Awan duduk diebelah Riko, cowok yang paling gokil di kelas Lily.
“Oke anak – anak pelajaran kita hari ini tentang puisi………….”
“Hi, aku Riko” sapa Riko kepada Awan.
“Hi, Awan” jawab Awan.
“Emangnya nama kamu beneran Awan?” Tanya Riko
“Iya” jawab Awan.
Riko membelalakkan matanya sakin tak percayanya.
“Riko, cewek lucu yang di sebelah sana itu siapa?” Tanya Awan sambil menunjuk ke arah Lily.
“Lily? Oh.. namanya Lily Lukman, ia adalah cewek paling aneh yang bersekolah di sekolah ini, dia sangat takut ditembak, sampai – sampai menghebohkan satu kampung karena mimpi ditembak sama cowok” jelas Riko panjang lebar.
Awan hanya tersenyum mendengar penjelasan Riko.
Setelah Awan berada di sekolah tersebut selama beberapa minggu, Lily tak henti – hentinya memperhatikan Awan. Matanya selalu mentap ke mata Awan. Kata Lily mata Awan seperti cahaya mentari senja yang menembus embun keabadian.
Setelah lama memendam rasa yang tak karuan, Lily memberanikan diri mengirim surat ke Awan melalui Luna yang berisi keinginannya untuk ditembak oleh Awan.


Dear : Awan
Saat pertama kali aku melihatmu, dunia ini seakan berhenti berputar, matamu telah mengalihkan duniaku, senyummu menyemati hidupku. Aku terkesan denganmu.
Saat surat itu sampai ke tangan Awan, Awan sampai tersenyum – senyum kecil membacanya, ia kemudian membalas surat itu.
Dear : Lily
Aku sudah membaca suratmu, isinya indah. Aku ingin bertemu kamu di taman sepulang sekolah.
Saat menerima balasan surat itu, hati Lily sudah berbunga – bunga. Apakah dia akan ditembak?
Setelah tiba ditaman, Awan sudah menunggunya, Awan tersenyum manis melihat kedatangan Lily, Lily pun sebaliknya. Tetapi, ketika Lily berjalan mendekati Awan, Awan tiba – tiba menodongkan sebuah pistol ke arah Lily. Lily sangat kaget melihat apa yang dilakukan Awan.
“Bukankah ini yang kau inginkan? Ditembak?” Tanya Awan.
“Ahhh… tolong! Hentikan, hentikan, jangan tembak aku. Ibu.. Ayah..” Lily berteriak sambil menutup matanya rapat – rapat. Tiba – tiba terdengar suara tembakan “Dorr..”
“Ahhh…..” Lily berteriak – teriak sekeras – kerasnya.
Setelah Lily berteriak suasana menjadi hening, Lily membuka matanya, didapatinya sebuah rangkaian bunga mawar keluar dari pistol tersebut. Lily benar – benar terkejut. Ia langsung memeluk Awan dengan erat, tiba – tiba suara tepuk tangan terdengar.
“Ayah, Ibu…..”
Ternyata Ayah dan Ibu Lily serta semua yang hadir saat Lily menggemparkan kampungnya termasuk anggota kepolisian dan densus 88 hadir dalam acara ini. Semua teman – teman serta guru – guru Lily termasuk Aidil yang berbelok ke Luna juga ada.
Bukan lagi kata “Huuuuuu……..” yang didapatkan oleh Lily tetapi kata “Cie……….”.

Pak Paejo : Cinta………




Copyright © 2009 Flying Without Wings All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.